Rasulan Dusun Walikangin Tanjungsari: Sukses Gelar Genduri hingga Hiburan Kesenian Doger Singo Budoyo

GUNUNGKIDUL, apacenews.org –1/6/2026 Segenap warga Padukuhan Walikangin, Kalurahan Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul menggelar upacara adat Bersih Dusun atau Rasulan pada Senin Wage, 6 Juni 2026. Acara tahunan ini menjadi wujud syukur kolektif atas melimpahnya hasil bumi sekaligus momentum memperkuat persatuan warga pasca-panen raya.

BUDAYA

apacenews.org

6/1/20264 min read

GUNUNGKIDUL, apacenews.org –1/6/2026 Segenap warga Padukuhan Walikangin, Kalurahan Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul menggelar upacara adat Bersih Dusun atau Rasulan pada Senin Wage, 6 Juni 2026. Acara tahunan ini menjadi wujud syukur kolektif atas melimpahnya hasil bumi sekaligus momentum memperkuat persatuan warga pasca-panen raya.

Profil Walikangin: Dusun Agraris yang Memegang Teguh Tradisi

Data Demografi & Administrasi Wilayah

Berdasarkan data statistik populasi per wilayah Kalurahan Ngestirejo, berikut adalah rincian profil demografi Padukuhan Walikangin:

Dusun Walikangin dipimpin oleh seorang Kepala Dusun bernama Dwi Susetyo dengan Jumlah Rukun Tetangga (RT): 8 RT dan Jumlah Kepala Keluarga (KK): 258 KK dengan

Total Jumlah Penduduk: 786 Jiwa Penduduk Laki-laki: 388 Jiwa Penduduk Perempuan: 398 Jiwa.

Fasilitas dan Potensi Umum

  1. Pendidikan: Terdapat fasilitas pendidikan dasar milik pemerintah, yaitu SDN Ngestiharjo Tanjungsari yang berlokasi di wilayah Walikangin.

  2. Pusat Kegiatan: Kegiatan kemasyarakatan, pertemuan RT/RW, pelayanan publik, dan upacara adat seperti Genduri Rasulan dipusatkan di Balai Padukuhan Walikangin.

  3. Konektivitas: Wilayah ini dilintasi oleh jalur utama Jalan Walikangin–Krakal yang menghubungkan kawasan pemukiman dengan destinasi wisata pantai selatan di Tanjungsari.

Dusun Walikangin terletak di kawasan perbukitan karst Kapanewon Tanjungsari, sebuah wilayah yang dikenal subur untuk komoditas pertanian lahan kering seperti jatil (singkong), jagung, dan kacang tanah. Mayoritas penduduk Walikangin menggantungkan hidupnya sebagai petani tangguh yang adaptif terhadap iklim perbukitan selatan Gunungkidul.

Di tengah arus modernisasi, Walikangin dikenal sebagai dusun yang konsisten merawat kearifan lokal. Karakter masyarakatnya kental dengan semangat gotong-royong atau gugur gunung. Karakter inilah yang menjadi fondasi utama kelestarian tradisi Rasulan dari generasi ke generasi, menjadikan kebudayaan sebagai identitas yang melekat erat dalam kehidupan sehari-hari.

Khidmat Genduri: Simbolisme Sanepan Rasa Syukur

Prosesi sakral dimulai sejak pagi hari melalui ritual Genduri massal yang dipusatkan di Balai Dusun Walikangin. Suasana berlangsung sangat khidmat. Di tengah-tengah ruang pertemuan, terlihat deretan ambengan, nasi tumpeng, serta bermacam-macam makanan tradisional yang ditata rapi oleh warga.

Setiap hidangan yang disajikan bukan sekadar pengisi perut, melainkan simbolik mendalam atau sanepan (perumpamaan Jawa). Sajian tersebut melambangkan rasa syukur yang mendalam dan ungkapan terima kasih yang tulus kepada Sang Pencipta atas segala berkah, keselamatan, serta rezeki yang telah dilimpahkan kepada warga. Walaupun disampaikan lewat bahasa sanepan dan perlambang adat yang sarat akan filsafat kuno, seluruh warga Dusun Walikangin dapat memahami dengan baik pesan moral dan spiritual yang terkandung di dalamnya.

Rasulan kali ini juga menjadi ajang pulang kampung bagi warga perantauan. Tradisi mujud—yakni berkunjung ke rumah sanak saudara dengan membawa buah tangan—tampak menghidupkan kembali suasana kekeluargaan yang hangat di setiap sudut Dusun Walikangin setelah doa genduri usai.

Sisi Lain Kang Wardi: Juru Kunci Muda Berpenampilan Sangar Berhati Santun.

Di balik kekhidmatan kepungan ambengan, tumpeng, ingkung, dan segala uborambe yang tersaji, ada satu sosok yang sangat menyita perhatian sepanjang prosesi Genduri berlangsung. Beliau adalah sang juru kunci adat Resan walikangin. Perawakannya tinggi, berambut gondrong, berkumis tebal, dengan tatapan mata tajam yang memancarkan kesan angker. Selintas, ada aura mistis, galak, dan keras yang melekat kuat pada penampilannya.

Namun, asumsi tersebut seketika runtuh setelah prosesi ritual selesai. Jurnalis apacenews.org mencoba memberanikan diri mendekat untuk menyapa dan meminta tanggapan. Di luar dugaan, karakter asli sang juru kunci justru berbanding terbalik 180 derajat dari kesan pertama yang menyeramkan.

Dengan penuh kelembutan, ia menerima salam kami, menawarkan tempat duduk, lalu bergegas meminta juru laden (pramutamu adat) untuk membuatkan teh hangat. Tak lupa, sebungkus rokok Gudang Garam Merah disodorkannya dengan ramah kepada jurnalis kami. Penampilan yang semula terkesan garang dan seram, ternyata menyimpan kepribadian yang sangat santun dan penuh unggah-ungguh dalam bertutur kata.

Setelah kami memperkenalkan diri, sosok bersahaja ini pun membuka obrolan dengan memperkenalkan namanya.

"Menawi mangke kepanggih kulo wonten mergi, celok mawon mas (kalau nanti ketemu saya di jalan, panggil saja mas). Nami kulo Wardi. Kulo asli Walikangin, lahir enggo sakpriki onten Walikangin (Nama saya Wardi. Saya asli Walikangin, lahir sampai sekarang di Walikangin). Kulo tiang asli dusun, nyuwun ngapunten menawi kirang sopan tebih saking trapsilo (Saya orang asli dusun, mohon maaf kalau kurang sopan dan jauh dari tata krama)," ungkapnya dengan logat medok khas Walikangin yang kental.

Kejutan tidak berhenti di situ. Jurnalis kami sempat terperangah saat mengetahui bahwa Kang Wardi ternyata masih sangat muda. Usianya bahkan diperkirakan seumuran dengan kameramen tim apacenews.org yang meliput di lapangan. Fakta ini menegaskan bahwa regenerasi penjaga adat di Dusun Walikangin berjalan dengan sangat alami dan sukses.

Suara Generasi Muda: Komitmen Merawat Warisan Leluhur

Semangat regenerasi ini senada dengan apa yang disuarakan oleh para pemuda setempat. Legiyo, salah satu tokoh muda Walikangin, menegaskan bahwa merawat tradisi hari ini adalah investasi identitas untuk masa depan.

"Rasulan ini bukan sekadar pesta rakyat setelah panen. Bagi kami generasi muda, ini adalah identitas diri. Menjaga dan melestarikan adat ini adalah tanggung jawab moral agar kita tidak kehilangan jati diri di tengah gempuran budaya modern," ujar Legiyo di sela-sela acara genduri.

Senada dengan Legiyo, tokoh pemuda lainnya, Sunarya, mengobarkan semangat tut wuri handayani di kalangan milenial dan Gen Z dusun setempat. Ia mengajak anak-anak muda untuk selalu mendampingi dan belajar dari para tetua adat.

"Kita yang muda harus tut wuri, mengiringi, dan belajar langsung dari para sesepuh dan leluhur yang telah mewariskan kearifan lokal luar biasa ini. Jangan sampai di masa depan, tradisi, adat, dan budaya seadiluhung ini punah atau hanya jadi cerita di buku sejarah karena kita abai," tegas Sunarya penuh semangat.

Sinergi Budaya Lewat Kesenian Doger Singo Budoyo

Puncak kemeriahan Rasulan Walikangin tahun ini ditandai dengan hadirnya panggung Hiburan Rakyat. Panitia menyuguhkan pertunjukan Kesenian Doger "Singo Budoyo" Pimpinan Kang Giyono yang didatangkan langsung dari tetangga sebelah, yaitu Dusun Kerjo, Kalurahan Ngestirejo.

Penampilan Singo Budoyo memukau ratusan pasang mata lewat gerakan tari yang dinamis, kostum yang mencolok, dan iringan musik gamelan yang menghentak. Kehadiran kelompok seni dari Dusun Kerjo ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah simbol sinergi budaya dan kerukunan antar-dusun yang kokoh di wilayah Kalurahan Ngestirejo.

Melalui perayaan Rasulan ini, Dusun Walikangin kembali membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus mengorbankan akar budaya. Tradisi ini tetap tegak berdiri sebagai pilar pemersatu bangsa dan benteng pelestari warisan leluhur di bumi Handayani. (AN/Red)

Kontak Media:
Tim Publikasi & Hubungan Masyarakat
Redaksi apacenews.org
Email: redaksi@ apacenews.org
Situs Web: www. apacenews.org

Kontak

Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut

Email

Telepon

andreaspujiantoro@apacenews.org redaksi@apacenews.org apacenewsgk@gmail.com

+6281391518572 +628212257572

Hak Cipta© Andreas Pujiantoro Center 2025. All rights reserved.