Rasulan Mendang 2026: Tradisi Guyub Rukun yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman.
“Bersih Dusun Harus Tetap Dilestarikan” Dalam suasana kenduri Bersih Dusun di Balai Dusun Mendang III, warga tampak duduk bersama tanpa sekat sosial, organisasi, maupun kepentingan politik. Semuanya menyatu dalam suasana guyub rukun khas pedesaan Jawa.
BUDAYA- GUNUNG KIDUL
apacenews.org
5/31/20263 min read


TANJUNGSARI (APACENEWS.ORG) 31/05/2026 Di tengah derasnya perubahan zaman dan modernisasi kehidupan desa, warga Dusun Mendang I, II, dan III di Kalurahan Ngestirejo membuktikan bahwa tradisi leluhur masih hidup dan terus dijaga dengan penuh kebanggaan.
Hari Minggu Pon, 14 Besar 1959 Tahun Jawa atau bertepatan dengan 14 Dzulhijjah 1447 Hijriah, tepatnya 31 Mei 2026, masyarakat Dusun Mendang I, II, dan III melaksanakan tradisi Bersih Dusun atau Rasulan yang berlangsung meriah, khidmat, dan penuh nuansa kebersamaan.
Tradisi tahunan ini bukan sekadar acara seremonial desa, melainkan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rezeki, kesehatan, keselamatan, dan berkah kehidupan yang telah diberikan selama setahun terakhir.
Dalam filosofi masyarakat Jawa, Rasulan menjadi momentum “ngalab berkah” melalui kenduri, sedekah bumi, doa bersama, hingga pertunjukan seni budaya yang diwariskan turun-temurun dari para leluhur.
Jejak Sejarah Mendang yang Menjadi Bagian Penting Ngestirejo
Dusun Mendang I, II, dan III memiliki nilai historis yang sangat kuat di wilayah Kalurahan Ngestirejo.
Berdasarkan sejarah pemerintahan kalurahan, kawasan Mendang dahulu merupakan Kelurahan Mendang tersendiri yang berada di wilayah utara. Namun pada tahun 1947, Kelurahan Mendang digabung dengan Kelurahan Gatak dan kemudian membentuk Kalurahan Ngestirejo yang dikenal hingga sekarang.
Hingga hari ini, identitas budaya masyarakat Mendang masih sangat terasa kuat, terutama dalam menjaga tradisi gotong royong, kerukunan warga, dan adat istiadat Jawa.
Profil Dusun Mendang I, Dusun Mendang I dipimpin oleh Kepala Dusun bernama Santas. Wilayah ini terdiri dari 4 Rukun Tetangga (RT), dengan jumlah 116 Kepala Keluarga dan total penduduk sebanyak 368 jiwa, yang terdiri dari 190 laki-laki dan 178 perempuan.
Profil Dusun Mendang II, Dusun Mendang II dipimpin oleh Kepala Dusun bernama Sutiani Nurjanah. Wilayah ini terdiri dari 4 Rukun Tetangga (RT), dengan jumlah 160 Kepala Keluarga dan total penduduk sebanyak 450 jiwa, yang terdiri dari 223 laki-laki dan 227 perempuan.
Profil Dusun Mendang III, Dusun Mendang III dipimpin oleh Kepala Dusun bernama Sigit Budi Susanto. Wilayah ini terdiri dari 4 Rukun Tetangga (RT), dengan jumlah 156 Kepala Keluarga dan total penduduk sebanyak 467 jiwa, yang terdiri dari 229 laki-laki dan 238 perempuan.
Karakteristik Wilayah
Dusun Mendang I,II dan III berada di kawasan perbukitan karst khas Gunungkidul bagian selatan. Infrastruktur jalan antarwilayah terus dikembangkan melalui program cor rabat jalan yang dilaksanakan secara gotong royong bersama masyarakat.
Mata Pencaharian
Mayoritas warga bekerja sebagai:
Petani lahan kering
Peternak
Buruh tani
Pelaku jasa wisata
Komoditas utama masyarakat meliputi:
Jagung
Ketela
Palawija
Tanaman musiman lainnya
Sebagian warga juga mulai terlibat dalam sektor jasa pariwisata karena akses wilayah yang strategis menuju kawasan pesisir pantai selatan Gunungkidul.
Fasilitas Pendidikan dan Sosial Warga Mendang
Pusat pendidikan dasar masyarakat dilayani oleh SD Negeri Mendang Tanjungsari, serta fasilitas TK dan PAUD yang berada di wilayah Mendang II.
Selain itu, masing-masing dusun memiliki:
Balai padukuhan
Pos pertemuan warga
Sarana kegiatan posyandu
Tempat musyawarah RT dan RW
Sementara Lapangan Mendang menjadi ruang publik penting bagi masyarakat, terutama untuk:
Kegiatan olahraga
Acara budaya
Pentas hiburan rakyat
Kegiatan kepemudaan
Rasulan 2026 Dipusatkan di Mendang III.
Tahun ini, pelaksanaan Bersih Dusun dipusatkan di Mendang III dengan berbagai rangkaian kegiatan budaya dan hiburan rakyat.
Saat ditemui jurnalis APACENEWS.ORG di sekitar Lapangan Mendang, seorang warga bernama Kang Wandi menjelaskan bahwa tradisi Rasulan dilaksanakan bergiliran setiap tahun demi pemerataan kebersamaan antarwilayah dusun.
“Saya di Mendang ini pendatang mas, istri saya asli Mendang. Tapi saya tahu acara bersih dusun ini memang luar biasa karena setiap tahun bergiliran. Tahun ini ada kegiatan pemuda, kesenian Doger dari Paguyuban Doger Warog Geni, dan malam harinya wayang kulit bersama dalang senior Ki Subardi Darmo Atmojo dari Hargosari,” ungkapnya.
Kesenian Doger Warog Geni sendiri dikenal sebagai kelompok seni tradisional lawas yang telah eksis selama puluhan tahun dan masih bertahan hingga sekarang.
Sementara puncak acara dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menghadirkan dalang kondang Ki Subardi Darmo Atmojo.
“Bersih Dusun Harus Tetap Dilestarikan”
Dalam suasana kenduri Bersih Dusun di Balai Dusun Mendang III, warga tampak duduk bersama tanpa sekat sosial, organisasi, maupun kepentingan politik. Semuanya menyatu dalam suasana guyub rukun khas pedesaan Jawa.
Salah seorang warga, Mas Giyarto, menyampaikan harapannya agar tradisi Bersih Dusun tetap terus dilaksanakan oleh generasi mendatang.
“Weeeh kudu to mas… Bersih dusun kuwi ojo mung didelok kendurine, tapi setahun sepisan ayo podo ngaturke rasa syukur. Tandur isih iso tuwuh, isih iso panen telo, jagung, gaplek. Yen awake dhewe gelem bersyukur, Gusti Allah mesthi paring rezeki,” ujarnya dengan logat khas Mendang yang medok dan penuh semangat.
Pernyataan sederhana itu menjadi gambaran bagaimana masyarakat Mendang masih memegang kuat nilai syukur, kebersamaan, dan ketulusan hidup yang kini mulai jarang ditemukan di tengah kehidupan modern.
Tradisi yang Menyatukan Warga Tanpa Sekat
Rasulan di Dusun Mendang I, II, dan III bukan sekadar pesta rakyat tahunan. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi perekat sosial masyarakat yang menjaga harmoni antarwarga. Tanpa atribut kelompok, tanpa perbedaan kepentingan, masyarakat berkumpul dengan satu tujuan: bersyukur atas nikmat kehidupan dan menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
Di tengah tantangan zaman, Dusun Mendang membuktikan bahwa tradisi, gotong royong, dan rasa syukur masih menjadi kekuatan utama masyarakat desa. (red/apacenews.org) – AN
Kontak Media:
Tim Publikasi & Hubungan Masyarakat
Redaksi apacenews.org
Email: redaksi@ apacenews.org
Situs Web: www. apacenews.org
