Wisatawan Mengeluh Dicegat dan Ditarik Iuran Tambahan di Kawasan Pantai Gunungkidul
Wonosari, (apacenews.org) -- Sejumlah pengunjung merasakan pengalaman kurang nyaman ketika bertandang ke destinasi pantai di Kabupaten Gunungkidul. Usai membayar retribusi sah di gerbang masuk kawasan wisata, mereka mengaku kembali dikenakan biaya oleh oknum tertentu saat akan menuju area pantai.
apacenews.org
6/5/20262 min read


Keluhan tersebut ramai menjadi perbincangan di jejaring sosial setelah diunggah pada Sabtu (30/05/2026). Dalam unggahan itu, pengunjung mengaku merasa tidak enak karena permintaan biaya tambahan tersebut disampaikan dengan cara yang dinilai berkesan mendesak.
Rombongan wisatawan tersebut diketahui berangkat dari Kabupaten Bantul menuju salah satu kawasan pantai di pesisir selatan Gunungkidul. Sesampainya di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR), mereka membayar tiket masuk sah sebesar Rp 15 ribu per orang.
Dengan jumlah rombongan lima orang, total retribusi yang dibayarkan mencapai Rp 75 ribu. Setelah menuntaskan pembayaran, mereka melanjutkan perjalanan menuju lokasi wisata dengan anggapan seluruh kewajiban administratif telah dipenuhi. Namun situasi berubah saat mereka tiba di lokasi tujuan.
Dalam unggahan yang tersebar, wisatawan mengaku dihentikan oleh beberapa oknum saat hendak memasuki area pantai. Mereka kemudian diminta memberikan sejumlah uang tambahan dengan alasan seikhlasnya.
Meski nominal yang diminta tidak disebutkan, wisatawan mengaku keberatan bukan karena besarnya uang yang harus diberikan, melainkan karena cara penyampaiannya.
"Kami tidak mempermasalahkan nominalnya, tetapi lebih kepada cara meminta yang menurut kami kurang nyaman dan berkesan memaksa," tulis pengunggah dalam unggahan tersebut.
Menurut pengakuan mereka, bukti pembayaran retribusi resmi yang telah diperoleh dari TPR juga telah diperlihatkan. Namun permintaan uang tambahan tetap dilakukan.
Unggahan tersebut langsung memicu beragam reaksi dari warganet. Banyak yang mempertanyakan keterbukaan pungutan di kawasan wisata, sementara lainnya khawatir kejadian serupa dapat memengaruhi citra pariwisata Gunungkidul yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sejumlah netizen menilai persoalan tersebut bukan sekadar soal nominal uang yang diminta, melainkan menyangkut kenyamanan dan kepastian biaya yang harus dikeluarkan wisatawan selama berlibur.
Di tengah persaingan sektor pariwisata yang semakin ketat, pengalaman pengunjung menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik. Kesan positif dapat menjadi promosi efektif melalui media sosial maupun rekomendasi dari mulut ke mulut. Sebaliknya, pengalaman yang dianggap kurang menyenangkan berpotensi menyebar luas dan memengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung.
Menanggapi viralnya unggahan tersebut, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Gunungkidul, Nanang Putranto, mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan penyelidikan dan klarifikasi terkait identitas orang yang dimaksud dalam video tersebut.
Menurut Nanang, Disparpora telah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat serta pengelola wisata yang berada di kawasan pantai tersebut.
"Sekarang proses klarifikasi. Kami mencoba mencari orang yang dimaksud," kata Nanang, Minggu (01/06/2026).
Ia menambahkan, pihaknya juga telah berkomunikasi dengan pemerintah desa dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Pantai Watu Walang untuk memperoleh informasi lebih lanjut terkait peristiwa yang dikeluhkan wisatawan tersebut.
Hingga kini, proses klarifikasi masih berlangsung. Disparpora Gunungkidul berjanji akan menelusuri fakta di lapangan guna memastikan kejadian yang sebenarnya sekaligus menjaga kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata di Gunungkidul.
